Wisata Kuliner Sidoarjo: Dawet Beras Segar dengan Topping Durian dan Tape
Dawet Beras Sidoarjo hadirkan cita rasa autentik minuman tradisional dengan topping nangka, tape, dan durian segar yang menggoda.
Memuat...
Pulau Lusi di Sidoarjo hadir dari endapan lumpur Lapindo. Kini jadi destinasi konservasi dan wisata edukatif mangrove, lengkap dengan ekowisata alami.
SIDOARJOUPDATE, JABON — Masih ingat dengan tragedi semburan lumpur panas Lapindo yang terjadi di Porong, Sidoarjo, pada Mei 2006? Dari peristiwa yang sempat melumpuhkan kehidupan ribuan warga itu, kini perlahan muncul harapan baru.
Sebuah pulau kecil hasil sedimentasi lumpur terbentuk di pesisir timur Sidoarjo atau tepatnya berada di Kecamatan Jabon, Sidoarjo.
Masyarakat menyebutnya Pulau Lusi, atau juga dikenal sebagai Pulau Sarinah.
Mengutip data dari Sistem Informasi Data Pariwisata (SIDITA) Jawa Timur, selama hampir dua dekade, lumpur panas yang terus menyembur telah membanjiri wilayah sekitar Porong dan menghasilkan endapan seluas sekitar 94 hektare.
Kini, endapan tersebut membentuk lanskap baru di perairan Sidoarjo—yang perlahan diubah menjadi kawasan konservasi dan wisata edukatif.

Pulau Lusi bukan sekadar daratan baru. Lokasinya yang berlumpur ternyata cocok menjadi habitat tumbuhan mangrove, menjadikan wilayah ini sebagai ekosistem baru yang penting bagi kawasan pesisir.
Melihat potensi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo kemudian menjadikan Pulau Lusi sebagai kawasan konservasi mangrove.
Berbagai upaya dilakukan untuk mengelola pulau ini secara berkelanjutan, baik untuk pelestarian lingkungan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Tak hanya itu, keunikan Pulau Lusi juga sempat menarik perhatian publik nasional. Pada 2019, kawasan ini masuk dalam nominasi Ekowisata Terpopuler di ajang Anugerah Pesona Indonesia (API).

Kini, Pulau Lusi bukan hanya tempat konservasi, tapi juga destinasi wisata edukasi yang menarik. Berikut lima aktivitas yang bisa kamu nikmati di sana:
Berbeda dari pantai-pantai pada umumnya, Pulau Lusi menawarkan ketenangan khas daerah konservasi.
Jauh dari kebisingan kota, kamu bisa menikmati udara segar, hamparan padang lumpur, gemercik air, dan siluet mangrove yang menciptakan suasana meditatif. Cocok untuk kamu yang ingin healing atau sekadar menyendiri di tengah alam.
Momen matahari terbit dan tenggelam di Pulau Lusi menawarkan sensasi berbeda. Pantulan cahaya keemasan di atas lumpur menciptakan suasana magis dan estetis, menjadikan pulau ini lokasi ideal bagi para pemburu foto alam.
Pulau Lusi juga menjadi tempat yang tepat untuk mengenal ekosistem mangrove secara lebih dekat. Beragam spesies mangrove tumbuh di sini, seperti Avicennia marina, Rhizophora mucronata, dan Sonneratia alba.
Pengunjung bisa belajar langsung tentang manfaat ekologis tanaman ini dalam menjaga garis pantai dan kehidupan biota laut.
Akses menuju Pulau Lusi dimulai dari Dermaga Apung Tlocor, yang berada di Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon. Dari dermaga ini, pengunjung dapat menumpang speedboat atau bus air menelusuri Sungai Porong.
Perjalanan memakan waktu sekitar 15–25 menit dengan biaya sewa perahu antara Rp150.000–Rp200.000 untuk 3–5 orang.
Salah satu aktivitas favorit wisatawan adalah memancing. Di Pulau Lusi, kamu bisa menikmati pengalaman memancing langsung di tambak.
Tidak hanya ikan bandeng—yang memang menjadi ikon perikanan Sidoarjo—tetapi juga jenis lain seperti kakap putih, lele air tawar, hingga ethmalosa.
Pulau Lusi menjadi contoh bagaimana bencana dapat perlahan diubah menjadi berkah. Dari lahan tak berpenghuni yang lahir dari tragedi, kini berkembang menjadi kawasan edukatif, ekologis, dan ekonomis.
Meski masih dalam tahap pengembangan, Pulau Lusi membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang bijak, alam mampu bangkit dan memberi manfaat baru bagi manusia. (RM/SN/SU.id)
Sumber: sidita.disbudpar.jatimprov.go.id
Dawet Beras Sidoarjo hadirkan cita rasa autentik minuman tradisional dengan topping nangka, tape, dan durian segar yang menggoda.
Cari tempat nyore Sidoarjo yang cozy? Temukan kafe kekinian dengan pemandangan sunset di sawah, working space nyaman, hingga spot unik melihat pesawat.
Petis, Reog, dan Bandeng menjadi tiga simbol khas Sidoarjo yang mendunia, merepresentasikan kekayaan kuliner, budaya, dan perikanan Jawa Timur.