Memuat...

  • 18 April 2026 12:59 AM

Kampung Batik Jetis, Warisan Budaya dan Simbol Persaudaraan dari Sidoarjo

Kampung Batik Jetis, Warisan Budaya dan Simbol Persaudaraan dari Sidoarjo

Kampung Batik Jetis Sidoarjo, pusat batik tulis legendaris sejak 1674, simbol warisan budaya, dakwah, dan persaudaraan lintas generasi.

SIDOARJO — Di balik geliat industri dan perkembangan kota, Sidoarjo menyimpan jejak budaya yang tak lekang oleh waktu.

Di sebuah sudut kota yang tenang, tepatnya di Kampung Jetis, Kecamatan Sidoarjo, berdiri sebuah kawasan yang menjadi pusat batik tradisional sejak lebih dari tiga abad silam.

Namanya kini dikenal luas sebagai Kampung Batik Jetis, kawasan yang tak hanya melestarikan warisan leluhur, tapi juga menggambarkan eratnya hubungan antara agama, seni, dan masyarakat.

Jejak Sejarah: Dari Dakwah hingga Kain Batik

Kisah Kampung Batik Jetis bermula sekitar tahun 1674, ketika seorang pria bernama Mbah Mulyadi, yang dipercaya sebagai kerabat dari kalangan kerajaan, datang menyamar sebagai pedagang dan menetap di kawasan Jetis.

Ia tidak hanya berdagang di pasar kaget setempat, tapi juga aktif melakukan pendekatan sosial dan keagamaan dengan warga. Ia mengajak masyarakat salat berjemaah dan mengajarkan Al-Qur’an.

Upaya dakwah itu membuahkan hasil. Masyarakat Jetis kian religius dan pada 1674, Mbah Mulyadi mendirikan sebuah masjid yang kemudian diberi nama Masjid Jamik Al-Abror.

Wilayah sekitar masjid ini lantas dikenal sebagai Desa Pekauman, merujuk pada tempat bermukimnya para kaum atau pemeluk agama Islam.

Tak hanya menyebarkan ajaran Islam, Mbah Mulyadi juga mengajarkan keterampilan membatik kepada jemaah masjid. Dari sinilah, cikal bakal Kampung Batik Jetis terbentuk.

Komunitas pembatik tumbuh dan berkembang dari lingkungan religius, dan hubungan antarpengrajin terjalin kuat melalui kegiatan pengajian dan gotong royong.

Persaudaraan itu diabadikan dalam salah satu motif batik khas Jetis bernama motif Gadag, yang menggambarkan ikatan erat antarwarga melalui simbol-simbol rangkaian bunga.

batik-jetis-sidoarjo-a.jpg

Batik tulis tradisional di Kampung Batik Jetis, Sidoarjo—sentra batik legendaris sejak tahun 1674. (Foto: IG @batikjetissidoarjo​​​​​​​)

Berkembang Bersama Pasar dan Selera Konsumen

Seiring waktu, aktivitas perdagangan di Pasar Jetis makin ramai. Batik Jetis yang dibuat dengan teknik tulis tangan mulai dikenal luas, bahkan diminati para pedagang asal Madura.

Mereka sering memesan batik dengan motif dan warna khas sesuai budaya Madura. Dari sinilah muncul istilah batik corak Madura dari Jetis, meskipun secara teknis, batik itu dibuat oleh warga Sidoarjo.

Pada awal kemunculannya, sekitar tahun 1675, batik Jetis didominasi warna dasar gelap seperti cokelat soga dengan pola-pola sederhana.

Namun, seiring berkembangnya permintaan pasar, para pengrajin mulai melakukan inovasi.

Masyarakat pesisir yang menjadi konsumen utama saat itu menyukai warna-warna terang dan mencolok. Maka lahirlah batik dengan warna merah, biru cerah, jingga, hingga kuning terang.

Beberapa motif ikonik yang muncul dan populer sejak 1980-an antara lain motif Beras Utah dan motif Kembang Tebu, yang merupakan visualisasi dari hasil bumi utama di Sidoarjo.

Motif Beras Utah, misalnya, dikenal karena kekayaan warnanya—lebih dari tiga warna digunakan dalam satu lembar kain batik.

Teknik pewarnaan dilakukan dengan metode colet, yakni pewarnaan menggunakan kuas untuk menciptakan variasi warna yang lebih hidup dan dinamis.

Motif awal seperti Sekardangan yang dulunya hanya menggunakan warna gelap seperti cokelat, biru tua, dan jingga tua, kini telah dimodifikasi menjadi lebih cerah.

Kombinasi warna-warna seperti merah muda, kuning terang, hingga biru muda semakin memperkaya khazanah visual batik Jetis.

Salah satu inovasi yang menonjol adalah penggabungan motif, seperti Beras Utah yang dipadukan dengan motif kipas, menghasilkan desain yang segar namun tetap menjaga akar tradisi.

batik-jetis-sidoarjo-b.jpg

Gapura masuk Kampung Batik Jetis, Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo. Kawasan ini dikenal sebagai sentra batik tulis tertua di Sidoarjo  (Foto: IG @batikjetissidoarjo​​​​​​​)

Warisan yang Terus Hidup

Kini, Kampung Batik Jetis bukan hanya menjadi sentra kerajinan batik tertua di Sidoarjo, tetapi juga menjadi simbol kekuatan tradisi yang terus beradaptasi.

Pengrajin di kawasan ini tak hanya mempertahankan teknik batik tulis, tapi juga aktif mempromosikan batik sebagai identitas budaya Sidoarjo melalui berbagai pameran dan kerja sama dengan pemerintah daerah.

Kampung Batik Jetis juga mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi, di mana pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan batik, belajar membatik, dan membeli hasil karya langsung dari para pembatiknya.

Batik Jetis adalah bukti bahwa seni tradisional tidak harus tinggal dalam bingkai masa lalu. Ia hidup, berkembang, dan terus menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Sidoarjo hingga hari ini. (RM/SN/SU.id)

Sumber : Merdeka.com